Jumat, 20 Januari 2017



PUPPY LOVE
By : Anisa Nurmauliddia

Di tengah kerumunan orang-orang berkulit putih dan berambut pirang, ya... memang saat ini aku berada disebuah negara besar yang menurutku cukup unik tetapi itu bukan tempat kelahiranku, saat ini aku berusia 10 tahun dan panggilan kecilku adalah Jack. 7 tahun silam ayah ku dipindah tugaskan di luar negeri, saat itu aku belum mengerti apapun karena aku masih sangatlah kecil, setelah mengurus surat-surat untuk kepindahan keluargaku, akhirnya kami pun berangkat pada saat itu juga. Selama beberapa tahun di negara ini aku tidak ingin kembali lagi ke negara asalku, bukan ku tak menganggapnya hanya saja aku sudah betah berlama-lama disini dan sudah terbiasa dengan keadaan negara ini, banyak sekali pelajaran yang aku terima. Dari berbagai penjuru dunia ada disini, di negara ini aku bersekolah disebuah American’s kids school dan aku bertemu banyak sekali bocah kecil yang berbeda-beda, mulai dari berkulit putih hingga hitam, semuanya ada disini dan salah satunya adalah Alice wanita kecil nan imut yang membuat jantungku berdebar-debar saat didekatnya, bukan karena penyakit jantung atau apalah tapi ini adalah perasaan yang sulit untuk aku katakan, ternyata bukan hanya aku saja yang menyukai Alice tetapi banyak bocah lelaki yang menyukainya dan seringkali mendekatinya. Pantang menyerah yang selalu aku katakan dalam hati sebagai motivasi untukku, setiap hari aku memberikan perhatian lebih dan aku berharap ia mulai menyukaiku. Setelah hal itu terus aku lakukan setiap hari bahkan setiap waktu jika itu memungkinkan, memang benar aku terlalu muda untuk menjalin cinta namun bagaimana lagi jika hati terus menggebu-gebu untuk selalu didekatnya.
            Beberapa bulan telah kulalui bersamanya, sebelum aku mengatakan apapun kepadanya dan aku mengerti bahwa ia juga mencintaiku, akhirnya aku yakin untuk mengatakan isi perasaanku padanya, memang memalukan sekali karena aku masih sangatlah kecil untuk melakukan itu. ah... sudahlah aku terlanjur sayang padanya. Bukan lagi hanya berada dalam sekolah tetapi saat ada camping diluar sekolah kamipun selalu bersama, ketika malam kamipun berkumpul didepan api unggun untuk bersenang-senang dan tak sengaja aku memeluknya, ia tak marah namun hanya memalingkan wajahnya kehadapanku dan menaikkan sedikit bibir mungilnya, sangat terasa sekali degupan jantungnya yang melaju sangat cepat, setlah beberapa menit akhirnya aku melepaskan pelukanku karena aku sedikit malu berada didepan teman-temanku.
            Kelulusanku di American’s kids school membuatku sedih karena jika aku lulus dari sekolah ini aku akan berpisah dengan wanitaku, wanita dengan sedikit cekungan di pipi yang sangat menarik bagiku. Namun bagaimana lagi, tak ada kata berpisah untuk kita berdua. Sejak saat itu aku dan dia tak pernah bertemu karena jarak antara rumahku dan rumahnya sangatlah jauh, jadi aku hanya bisa memikirkannya ketika aku sedang merindukannya. Setelah beberapa lama aku tak melihatnya lagi karena jarak antara rumah kita, aku memilih untuk berpaling darinya untuk wanita lain, bukan ku tak merindukannya hanya saja aku sudah menyukai wanita lain disini, “Iam sorry but I love Diana” itu yang aku katakan dalam hati ketika aku sedang mendekati wanita lain, ya.. nama wanita yang kucintai kini adalah Diana, wanita yang pertama kali aku lihat disekolah ini yang memakai jilbab, sama dengan ibuku yang selalu memakai selembar kain untuk menutupi kepala dan rambutnya. Memang benar Alice tak memakai jilbab karena memang agama kita yang berbeda, tetapi aku tetap merindukannya. Namun hubunganku dengan Diana tak bertahan lama karena ia akan pindah ke negara lain jadi hubungan ini harus diakhiri walaupun sebenarnya aku tak menginginkannya, “but what else ?, already twice this relationship separated by a distance not allowing”.
            Telah aku lalui kehidupanku tanpanya, karena jarak yang menghalangi dan sampai saat ini aku tak pernah tau keberadaannya. Saat ini aku berumur 22 tahun namun aku tetap tak bisa melupakan cinta pertamaku, tak tau kenapa aku kali ini ingin sekali bertemu dengannya walaupun itu sangat mustahil karena mungkin wajahnya telah berubah atau mungkin dia telah lupa denganku. setiap pagi aku selalu berolahraga disebuah taman kecil didekat perumahanku, aku melihat ada yang tak asing dengan wanita berparas cantik dengan seseorang lelaki bersamanya, aku berpikir itu wanita yang sama, yang dulu selalu bersamaku saat kita masih kecil, “aaah.. itu hanya pikiranku saja, mana mungkin Alice ada disini ?, untuk apa ?” aku meracau dalam hati. Tak lama kemudian saat aku duduk didekat pohon wanita itu menghampiriku dan tersenyum, “aku sangat ingat sekali cekungan kecil di pipi itu, aku juga sangat yakin itu Alice, wanita kecil yang aku tunggu selama ini, namun apa yang ia lakukan disini ?, dan dengan siapa ia disini ?” hatiku serasa berteriak dan bicara itu berkali-kali, keyakinanku terbukti ketika ia memanggilku dan tetap dengan senyuman manis itu. “Jack..?” Alice memanggilku. “waow... sungguh ini sangat mustahil, namun ada keajaiban didunia ini” bukannya aku menjawabnya aku malah berbicara dengan hati yang serasa dari tadi meracau tak karuan. “Jack...?, are you alright?” dia membangunkan lamunanku, “oh okay, I’m okay” aku tak bisa berkata apapun, “How are you jack ?” alice memulai pembicaraan ini, “I’am okay, you still remember me ?” aku mulai memberanikan diri itu menanyakan itu kepadanya, “Sure, I’d still remember” memberikan jawaban dengan senyum manis itu, “I’m glad you did not forget me, but why are you here?” aku memperjelas pertanyaan yang sedari tadi dalam hati, “my husband’s home was near here, so I wanted to run in the morning here” setelah menjawab itu ia pergi meninggalkanku, suami ? menikah ?, apa dia sudah menikah ?, kapan ?, apa begitu cepat dia meninggalkan semua dan segalanya yang dulu bersamaku, apa benar itu hanya cinta monyet yang sekedar suka terus lupa dengan sendirinya, namun aku tak pernah berpikir seperti itu, Alice aku yakin masih ada rasa dihati itu, namun keyakinanku goyah saat ada suamimu disampingmu, sedih, rindu, bingung itu pasti namun aku tak bisa melakukan apapun saat ini, hanya bisa terdiam dan memikirkan sesuatu yang mungkin gila untuk dilakukan. Beberapa saat aku telah menerima itu, menerima hal yang mungkin tak bisaku lupakan, aku bersikap untuk bahagia walaupun itu sangat menyakitkan. Hanya cinta monyet yang dilakukan anak-anak. Pelajaran berharga yang ku dapatkan saat ini J
END
Thank’s
Tunggu cerita selanjutnya
To : Hendri Sumiyono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar