Kamis, 06 April 2017



AKU
By : Anisa Nurmauliddia

Aku dihadapkan dalam keadaan yang sangat mengecewakan untukku, dimana aku harus memilih salah satunya, membiarkan dia pergi atau menahannya untuk diam disatu tempat bersamaku. Disatu sisi ingin sekali aku menahannya tetapi dia tak ingin lagi bersamaku, bahkan jika aku melepaskannya aku takkan pernah rela ia bersama dengan yang lain. Aku bingung hanya air mata yang setiap kali aku seka untuk menutupi kesedihanku dihadapannya. Bukan tak percaya jodoh ditangan Tuhan tapi aku pernah berfikir dialah seseorang yang akan menemani masa tuaku kelak karena aku merasa hubunganku dengannya tak seperti cinta monyet yang hanya beberapa minggu saja, hubungan ini sudah melebihi 3 tahun lamanya tapi tak kukira hubungan yang bertahun tahun ini akan membuat dia bosan bersamaku dan memilih untuk mencari yang lain.
Bukan aku menyesal telah bersamanya tapi saat aku mengingatnya aku semakin membencinya dan merasa bahwa aku ini manusia bodoh yang terlarut larut dalam cinta gila. Aku selalu memikirkan semua kata kata yang keluar dari mulutnya, mana janjimu ?, mana kesetianmu untukku ?, dimana kamu saat aku terpuruk mendengar cacian wanita cantik yang pada saat itu dia bilang aku calon istrinya, terpuruk benar benar terpuruk dan bahkan aku yakin bahwa aku takkan bisa membuka hatiku lagi untuk lelaki manapun. Bukan hanya trauma tapi sedikit menutup diri untuk lelaki.

Jumat, 20 Januari 2017



PUPPY LOVE
By : Anisa Nurmauliddia

Di tengah kerumunan orang-orang berkulit putih dan berambut pirang, ya... memang saat ini aku berada disebuah negara besar yang menurutku cukup unik tetapi itu bukan tempat kelahiranku, saat ini aku berusia 10 tahun dan panggilan kecilku adalah Jack. 7 tahun silam ayah ku dipindah tugaskan di luar negeri, saat itu aku belum mengerti apapun karena aku masih sangatlah kecil, setelah mengurus surat-surat untuk kepindahan keluargaku, akhirnya kami pun berangkat pada saat itu juga. Selama beberapa tahun di negara ini aku tidak ingin kembali lagi ke negara asalku, bukan ku tak menganggapnya hanya saja aku sudah betah berlama-lama disini dan sudah terbiasa dengan keadaan negara ini, banyak sekali pelajaran yang aku terima. Dari berbagai penjuru dunia ada disini, di negara ini aku bersekolah disebuah American’s kids school dan aku bertemu banyak sekali bocah kecil yang berbeda-beda, mulai dari berkulit putih hingga hitam, semuanya ada disini dan salah satunya adalah Alice wanita kecil nan imut yang membuat jantungku berdebar-debar saat didekatnya, bukan karena penyakit jantung atau apalah tapi ini adalah perasaan yang sulit untuk aku katakan, ternyata bukan hanya aku saja yang menyukai Alice tetapi banyak bocah lelaki yang menyukainya dan seringkali mendekatinya. Pantang menyerah yang selalu aku katakan dalam hati sebagai motivasi untukku, setiap hari aku memberikan perhatian lebih dan aku berharap ia mulai menyukaiku. Setelah hal itu terus aku lakukan setiap hari bahkan setiap waktu jika itu memungkinkan, memang benar aku terlalu muda untuk menjalin cinta namun bagaimana lagi jika hati terus menggebu-gebu untuk selalu didekatnya.
            Beberapa bulan telah kulalui bersamanya, sebelum aku mengatakan apapun kepadanya dan aku mengerti bahwa ia juga mencintaiku, akhirnya aku yakin untuk mengatakan isi perasaanku padanya, memang memalukan sekali karena aku masih sangatlah kecil untuk melakukan itu. ah... sudahlah aku terlanjur sayang padanya. Bukan lagi hanya berada dalam sekolah tetapi saat ada camping diluar sekolah kamipun selalu bersama, ketika malam kamipun berkumpul didepan api unggun untuk bersenang-senang dan tak sengaja aku memeluknya, ia tak marah namun hanya memalingkan wajahnya kehadapanku dan menaikkan sedikit bibir mungilnya, sangat terasa sekali degupan jantungnya yang melaju sangat cepat, setlah beberapa menit akhirnya aku melepaskan pelukanku karena aku sedikit malu berada didepan teman-temanku.
            Kelulusanku di American’s kids school membuatku sedih karena jika aku lulus dari sekolah ini aku akan berpisah dengan wanitaku, wanita dengan sedikit cekungan di pipi yang sangat menarik bagiku. Namun bagaimana lagi, tak ada kata berpisah untuk kita berdua. Sejak saat itu aku dan dia tak pernah bertemu karena jarak antara rumahku dan rumahnya sangatlah jauh, jadi aku hanya bisa memikirkannya ketika aku sedang merindukannya. Setelah beberapa lama aku tak melihatnya lagi karena jarak antara rumah kita, aku memilih untuk berpaling darinya untuk wanita lain, bukan ku tak merindukannya hanya saja aku sudah menyukai wanita lain disini, “Iam sorry but I love Diana” itu yang aku katakan dalam hati ketika aku sedang mendekati wanita lain, ya.. nama wanita yang kucintai kini adalah Diana, wanita yang pertama kali aku lihat disekolah ini yang memakai jilbab, sama dengan ibuku yang selalu memakai selembar kain untuk menutupi kepala dan rambutnya. Memang benar Alice tak memakai jilbab karena memang agama kita yang berbeda, tetapi aku tetap merindukannya. Namun hubunganku dengan Diana tak bertahan lama karena ia akan pindah ke negara lain jadi hubungan ini harus diakhiri walaupun sebenarnya aku tak menginginkannya, “but what else ?, already twice this relationship separated by a distance not allowing”.
            Telah aku lalui kehidupanku tanpanya, karena jarak yang menghalangi dan sampai saat ini aku tak pernah tau keberadaannya. Saat ini aku berumur 22 tahun namun aku tetap tak bisa melupakan cinta pertamaku, tak tau kenapa aku kali ini ingin sekali bertemu dengannya walaupun itu sangat mustahil karena mungkin wajahnya telah berubah atau mungkin dia telah lupa denganku. setiap pagi aku selalu berolahraga disebuah taman kecil didekat perumahanku, aku melihat ada yang tak asing dengan wanita berparas cantik dengan seseorang lelaki bersamanya, aku berpikir itu wanita yang sama, yang dulu selalu bersamaku saat kita masih kecil, “aaah.. itu hanya pikiranku saja, mana mungkin Alice ada disini ?, untuk apa ?” aku meracau dalam hati. Tak lama kemudian saat aku duduk didekat pohon wanita itu menghampiriku dan tersenyum, “aku sangat ingat sekali cekungan kecil di pipi itu, aku juga sangat yakin itu Alice, wanita kecil yang aku tunggu selama ini, namun apa yang ia lakukan disini ?, dan dengan siapa ia disini ?” hatiku serasa berteriak dan bicara itu berkali-kali, keyakinanku terbukti ketika ia memanggilku dan tetap dengan senyuman manis itu. “Jack..?” Alice memanggilku. “waow... sungguh ini sangat mustahil, namun ada keajaiban didunia ini” bukannya aku menjawabnya aku malah berbicara dengan hati yang serasa dari tadi meracau tak karuan. “Jack...?, are you alright?” dia membangunkan lamunanku, “oh okay, I’m okay” aku tak bisa berkata apapun, “How are you jack ?” alice memulai pembicaraan ini, “I’am okay, you still remember me ?” aku mulai memberanikan diri itu menanyakan itu kepadanya, “Sure, I’d still remember” memberikan jawaban dengan senyum manis itu, “I’m glad you did not forget me, but why are you here?” aku memperjelas pertanyaan yang sedari tadi dalam hati, “my husband’s home was near here, so I wanted to run in the morning here” setelah menjawab itu ia pergi meninggalkanku, suami ? menikah ?, apa dia sudah menikah ?, kapan ?, apa begitu cepat dia meninggalkan semua dan segalanya yang dulu bersamaku, apa benar itu hanya cinta monyet yang sekedar suka terus lupa dengan sendirinya, namun aku tak pernah berpikir seperti itu, Alice aku yakin masih ada rasa dihati itu, namun keyakinanku goyah saat ada suamimu disampingmu, sedih, rindu, bingung itu pasti namun aku tak bisa melakukan apapun saat ini, hanya bisa terdiam dan memikirkan sesuatu yang mungkin gila untuk dilakukan. Beberapa saat aku telah menerima itu, menerima hal yang mungkin tak bisaku lupakan, aku bersikap untuk bahagia walaupun itu sangat menyakitkan. Hanya cinta monyet yang dilakukan anak-anak. Pelajaran berharga yang ku dapatkan saat ini J
END
Thank’s
Tunggu cerita selanjutnya
To : Hendri Sumiyono

Senin, 09 Januari 2017

GORESAN KECIL DI SEBUAH PONDOK KAYU
                                        By : Anisa Nurmauliddia
Mentari kian terbangun di pagi hari untuk membangunkanku namun tak pernah ku hiraukan karena diriku memang malas untuk bangun dipagi cerah, aku adalah anak seseorang pengusaha yang cukup mampu bisa dikatakan sangat mampu namun aku tak pernah mengerti bagaimana susahnya orang tuaku bekerja aku hanya bisa menghabiskan uang yang mereka berikan. Namaku “Afrizal Zakaria Devanto” banyak orang yang mengatakan jika aku ini anak nakal, memang begitu diriku, ini diriku anak yang suka tawuran, jarang masuk kelas, suka sekali membolos untuk pergi nongkrong bersama teman gengku.
    Suatu hari aku ditegur oleh guruku disekolah aku diberikan surat peringatan dan menyuruh kedua orang tuaku untuk datang kesekolah, akupun tak menghiraukannya karena aku tak pernah peduli dengan sesuatu yang bagiku tak penting, keesokan harinya kedua orang tuaku datang kesekolah karena menerima panggilan dari sekolah dan aku dipanggil oleh salah satu guruku untuk datang ke kantor kepala sekolah. “maaf, untuk orang tua Afrizal saya memanggil anda berdua kemari, karena kami merasa Afrizal sudah tak ingin lagi bersekolah disini, karena banyak sekali pengaduan para guru terhadap Afrizal yang jarang masuk kelas dan tidak pernah menyelesaikan tugasnya” kepala sekolahku mulai berhbicara panjang lebar mengenai kelakukanku disekolah, orang tuaku mungkin terlihat marah mendengar kelakuanku seperti itu disekolah tapi aku tak pernah ambil pusing karena itu memang diriku dan tidak bisa dirubah, “iya itu memang kelakuanku, memangnya kenapa jika aku seperti itu, ada yang salah ?” aku menjawab enteng perkataan kepala sekolah, orang tuaku merasa malu dan mungkin ingin sekali memarahiku, “maaf bu dengan perkataan anak saya, baik bu kami akan memindahkan anak kami disebuah pondok pesantren didaerah yang jauh dari perkotaan agar dia bisa berubah” ayahku pun mulai berbicara karena yang aku lihat sejak tadi hanya diam dan melotot terus. Namun dalam hati aku mulai berbicara “pesantren?, aahh tapi yasudah karena dimanapun aku tak akan bisa berubah karena ini memang diriku, ini memang sifatku aku tak akan pernah bisa berubah”.
    Esok hari aku dibangunkan oleh ibuku untuk cepat-cepat mandi, “Rizal, bangun dan cepat mandi”, Ibuku mulai membuka selimutku dan membuka jendela kamarku. “aahhh ibu ini silau” aku terbangun dengan matahari yang melotot hingga aku tak kuat membuka mataku.” Huhhh menyebalkan pagi-pagi kayak gini mau kemana sih nyuruh mandi cepet-cepet”, aku bergumam terus dalam hati karena baru kali ini aku bangun sepagi ini. Setelah aku mandi aku melihat ibuku memasukkan baju bajuku kedalam koper, “eh eh ibu, kenapa semua pakaianku dimasukin, memangnya aku mau kemana?” aku bertanya dengan nada kebingungan, “apa kamu lupa ?, ayahmu akan mengantarkanmu dan mendaftarkanmu disebuah pondok pesantren didesa” ibuku mulai menjelaskan, “jadi yang ayah katakan memang benar bu aku akan kesana?” aku memelas agar ayah dan ibuku tidak membawaku kesana, “sudahlah pakai baju ini dan segera turun, temui ayahmu dibawah”, setelah ibuku mengemasi pakaianku ibu menyuruhku untuk segera turun. Akhirnya setelah siap aku turun kebawah (iya memang kamarku berada dilantai dua), terlihat ayahku sudah siap untuk mengantarku, “Rizal cepat bawa kopermu ini sudah siang” ayahku dengan nada tinggi menyuruhku, “iya ayah” aku menjawab dan turun dengan membawa koper. “ayah apa ini gurauan ?, apa ayah tega mengirimku kesebuah pondok pesantren yang aku belum pernah kesana sekalipun” aku mulai berbicara pada ayahku agar ayahku membatalkan niatnya, “apa ayah terlihat seperti bergurau ?, ayah hanya ingin kamu berubah menjadi orang yang baik bukan untuk mengusirmu dari rumah” ayahku mulai mempertegas perkataannya. Saat itu wajahku mulai musam terlihat ibuku sedih saat aku masuk dalam mobil dan segera berangkat kesana, aku melambaikan tanganku pada ibu dan seketika itu mobil yang kutumpangi sudah berjalan menjauhi rumah itu, memang sedih tapi bagaimana lagi, jika ayahku sudah mempunyai niat ia takkan pernah bisa mengurungkannya. Didalam perjalanan aku hanya diam dan hanya memandangi jalan sekitar. “nak, jangan terlalu dipikirkan, disana lebih menyenangkan, banyak teman lagi” ayahku mulai membuka pembicaraan disela-sela perjalanan yang mungkin cukup jauh, “aku tak memikirkan itu ayah, hanya saja aku memikirkan bagaimana aku bisa beradaptasi dengan pelajaran yang belum pernah aku ketahui sebelumnya” aku menjawab dengan mata masih tertuju pada pinggiran jalan, “disana banyak sekali orang-orang yang peduli terhadap sesama, kamu pasti aku dibantu oleh teman atau ustadz-ustadz mu disana” ayah mulai menyenangkanku, “yasudah aku terima” aku menjawab seperti seseorang yang sangat letih. Beberapa jam aku lalui hingga aku tertidur cukup lama dalam perjalanan ini dan tak terasa mobil ayahku berhenti lalu ayah membangunkanku, “Rizal bangun kita sudah sampai” ayahku mulai menepuk pundakku, akhirnya aku terbangun dan melihat disekitarku banyak sekali lelaki yang mengenakan sarung dan songkok sambil membawa Al-qur’an, ketika ayah turun aku mengikutinya, aku seperti orang ter-keren ditempat itu karena hanya aku yang memakai celana jeans dan kaos oblong, aku mulai berpikir apakah aku harus seperti anak anak itu yang kemana-mana selalu mengenakan sarung dan songkok, aaah pikiranku mulai tak karuan.
    Setelah lama aku menunggu ayah berbicara dengan pengurus pondok akhirnya aku diantar untuk melihat kamarku, saat membuka kamar aku melihat ada lima anak yang berkumpul disana dan mungkin sedang mengerjakan tugas atau apalah aku tak peduli, anak-anak itu mulai menyapaku, aku hanya tersenyum, setelah aku melihat kamarku ayah pamit untuk segera pulang karena masih ada pekerjaan yang menunggu dikantornya, “harus bisa menjaga nama baik keluarga” pesan ayah padaku, “iya ayah” aku menjawabnya dan mengantarkan ayahku kedepan. Ketika aku kembali kekamarku anak-anak yang berkumpul tadi sudah tidak ada, kemana mereka ?, bicaraku dalam hati, yasudah biarlah. Saat aku ingin berbaring ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, tok tok tok…, “maaf mas anda harus cepat berganti pakaian seperti kami karena kami akan memulai pengajian rutin dimasjid dengan bapak kyai” beberapa orang datang menghampiriku untuk memberitahukan bahwa dipesantren ini aku harus berpakaian seperti itu setiap harinya, “oh iya terimakasih, tunggu saja aku di masjid” jawabanku yang agak songong, 5 menit aku berganti pakaian aku langsung aku menuju kemasjid untuk mengikuti pengajian.
    Setelah pengajian selesai santri-santri itu mulai berkumpul disebuah ruang makan yang sangat besar karena ku nggak tau harus ngapain jadi aku ikut ajha kemana mereka pergi, semua orang mulai mengambil piring dan satu persatu lauk-pauk yang sudah disediakan aku pun mengikutinya dan duduk disebelah santri yang sedari tadi baik padaku. Dipertengahan aku menyuapkan nasi kedalam mulutku anak itu mengajakku untuk berbincang-bincang, “mas ini namanya siapa ya ?, mas ini kan yang anak baru tadi kan ?” iya mulai banyak pertanyaan., “panggil saja saya Rizal, iya mas saya baru disini” aku mulai menjawabnya, “jangan panggil saya mas panggil saja saya Imron, saya sudah 4 tahun di pesantren ini, mengapa mas baru masuk saat pertengahan semester seperti ini ?” dia bertanya dengan lembut, “lama banget ya kamu disini, saya pindah kesini karena saya disekolah yang dulu adalah murid yang paling bandel dan tidak bisa diatur jadi orang tua saya ingin agar saya berubah ditempat ini” aku menjelasakannya satu-persatu. Dan tak terasa nasi yang ada dipiringku tadi telah habis, setelah aku menaruh piringku itu ditempat cucian piring aku langsung menghampiri anak itu, “kita akan kemana sekarang ?” aku memberanikan untuk bertanya pada anak itu, “eeeemm kita akan sholat berjamaah dan setelah itu kita akan belajar mengaji, mari jika kamu ingin ikut” ia mengajakku, “boleh aku bergabung dengan kalian ?” aku takut jika mereka terganggu dengan kedatanganku, “kenapa tidak ?, mari”, ia sangat baik dan sopan.
    Setelah sholat berjamaah aku diajarinya mengaji oleh mereka yang sejak tadi bersamaku, aku semakin akrab bersama mereka walaupun kami baru kenal beberapa jam saja, saat ini badanku serasa tak kuat lagi untuk beraktifitas karena jadwal yang padat di pesantren ini, akhirnya aku kembali kekamar dan aku membuka laptopku untuk melihat apakah ada email dari teman-temanku karena aku merasa bosan disini, ketika aku sedang membuka laptop ada yang mengetuk pintu kamarku, “masuk ajha nggak dikunci” aku berteriak karena saat itu aku memang benar-benar sangat kelelahan, ternyata Imron yang mengetuk pintu itu, “wah Rizal kamu punya barang ini ?” ia ternganga, “barang apa yang kamu maksud ?, ini namanya laptop, apa kamu belum pernah sekalipun melihat ini ?” aku merasa bingung dengan pertanyaan imron, ‘iya ini Rizal, aku pernah melihatnya namun hanya di televisi” ia mulai memencet-mencet keyboard pada laptopku, seperti anak kecil yang baru kenal dengan barang baru. Memang pada saat itu laptop jarang ada yang memiliknya dan juga pondok pesantren itu berada disebuah pelosok desa jadi jarang sekali aku melihat mobil lewat didaerah pelosok ini. “bagaiman cara menyalakan alat ini ?” ia mulai penasaran, “tadi kan kamu udah ngajarin aku ngaji jadi sekarang gantian aku yang ngajarin kamu tentang teknologi terbaru ini ya” aku mulai menuntunnya, setelah beberapa saat ia mulai bisa untuk menyalakannya dan kali ini aku akan mengajarinya untuk menulis dengan keyboard. Aku sangat lelah dan aku ketiduran sehingga aku membiarkannya untuk mengotak-atik laptopku sendiri, aku percaya dengannya karena memang dia anak yang pandai. Setelah ia selesai mengotak-atik laptopku ia membangunkanku untuk mematikan laptop dan pindah posisi tidur karena jika posisiku seperti itu aku akan merasa lebih letih esoknya, ia mulai berbicara panjang lebar agar aku segera bangun.
    Setelah beberapa hari aku disini aku merasa betah kebiasaan kita yaitu setelah belajar mengaji kita belajar untuk menggunakan laptop secara keseluruhan, ia mulai pintar dalam menggunakannya, ia juga menulis cerita tentang dirinya dan keluarganya aku hanya mengajarinya hal-hal yang menurutku penting saja tapi ia bisa melakukannya sendiri kini tanpa bantuanku. Tepat pada esok hari ada sebuah perlombaan untuk menulis cerita pengalaman yang mengesankan, ia sangat antusias untuk ikut dan aku mendukungnya, setiap harinya sibuk untuk menulis, menulis dan menulis. Setelah selesai dan ceritanya jadi ia mulai mengumpulkannya lalu dalam satu minggu kami menunggu akhirnya pengumuman pemenang itu diumumkan. Memang benar perkiraanku ia menjadi pemenang pertama karena ia sangat pandai dan aku juga suka sekali dengan tulisannya, ia menangis terharu karena baru kali ini ia mendapatkan juara seperti ini, aku pun tak bisa menahan air mata ini karena aku juga merasa bangga punya sahabat yang pandai seperti imron.
    Tak terasa aku disini sudah satu tahun dan masih tetap dengan wajah sahabat yang sama, namun persahabatan ini tak berlangsung lama karena Imron mendapat beasiswa diluar kota dan akan berangkat 3 hari lagi untuk meneruskan pendidikannya, memang ini yang ditunggu Imron tapi bagaimana aku nantinya jika tidak ada dirinya, kita sudah seperti saudara yang kemana-mana selalu bersama, aku juga harus merelakan imron buat mengejar cita-citanya. Akhirnya hari yang tak kutunggu datang juga dan tepat pada saat itu imron pergi dari pesantren ini, yasudah aku tak akan terlarut terlalu lama dengan kesedihan ini. memang benar hari-hari tanpanya sangat membosankan, aku harus mengerjakan sesuatu itu sendiri tanpa ada sosok yang selalu membantuku dan menepuk pundakku ketika aku salah, aku merindukannya setelah 5 bulan kita tak pernah bertemu, aku berubah seperti ini karena bantuannya, orang tuaku merasa padaku bangga juga karena bantuannya. Namun tepat pada bulan ke-6 semenjak kepergiannya aku pun juga melanjutkan pendidikan ku dikota kelahiranku, disini aku mulai mendapat teman baru namun aku tetap masih tak bisa menggantikan ia sebagai seorang sahabatku. Bertahun-tahun aku lalui tanpanya dan tak terasa aku sudah lulus sebagai sarjana kedokteran, tak lama kemudian aku bekerja disalahsatu rumah sakit dikotaku setelah beebrapa bulan aku bekerja disini aku memutuskan untuk mengambil cuti selama 4 hari karena aku rindu dengan keadaan di pesantren aku sangat ingin mengunjunginya. Setelah perjalanan yang sangat jauh akhirnya aku sampai didepan pesantren aku sempat terdiam dan memikirkan saat aku disini dulu bersama Imron, bagaimana keadaannya sekarang ?, mengapa ia tak pernah menghubungiku ?, aku selalu bertanya-tanya dalam hati, huuuh yasudahlah. Didalam pesantren aku menemui pengurus pesantren karena aku rindu dan aku ingin menanyakan bagaimana keadaan temanku itu, “Assalamualaikum pak” aku mengetuk pintu ruangannya, “Wa’alaikum salam, eh nak Rizal, lama kita tak bertemu, mari-mari masuk” pengurus pondok itu mempersilahkanku untuk masuk, “iya pak saya baru bisa berkunjung sekarang, maaf pak, apakah saya boleh menanyakan sesuatu ?” aku mulai memberanikan diri untuk bertanya, “boleh nak silahkan” ia membolehkannya, “apakah Imron memberi kabar orang-orang dipesantren ini pak ?” aku mulai berbicara serius, bapak itu wajahnya terlihat tak seceria saat aku masuk, “ada apa pak ?” aku mulai bingung, “begini nak 3 bulan yang lalu nak Imron kemari dalam keadaan sakit keras, ia berkata jika aku meninggal ingin dikuburkan dipesantren ini dan setelah 5 hari ia dirawat di pesantren ini akhirnya ia meninggal, saya tidak diperbolehkan untuk memberitahukan kepada anda” bapak itu sambil menunduk, “jadi selama ini Imron sudah meninggal ?, aku ingin melihat kuburnya ?” aku segera bangkit dan pergi melihat kuburnya, setelah sampai aku tertunduk dan menangis terisak-isak karena aku tak menemaninya disaat terakhirnya, aku menyesal tak mencarinya disini sejak dulu, Ya Allah kenapa Engkau berikanku cobaan dengan mengambil sahabatku ? aku tetap menagis disamping kuburnya lalu bapak itu membangkitkanku dan membawaku keruangannya kembali, namun aku masih tak menyangka.
    Setelah beberapa hari aku kembali bekerja, serasa diriku masih tak kuat karena hatiku masih terguncang, namun aku harus tetap bekerja karena aku mengingat Imron pernah berkata padaku “apapun pekerjaanmu kelak kamu harus berbuat kebaikan dan tetap jujur karena kemajuan negara kita berada ditangan anak-anak bangsa”, aku berjanji pada diriku sendiri agar aku tetap melakukan yang terbaik dan selalu jujur. Walaupun kini sahabatku telah tiada namun aku akan tetap mengenangnya. Lakukanlah yang terbaik untuk bangsa, orang tua dan sahabat-sahabatmu karena jika tidak kamu akan menyesalinya.
SEKIAN

SEKEPAL IMPIANKU & NEGARAKU
                                                         By : Anisa Nurmauliddia

     Senja mulai terbangun dan ia ingin sekali membangunkanku dalam tidur nyenyakku, ayam yang mulai ricuh dengan berisiknya. Akhirnya aku terbangun dan membuka jendela kamarku disana aku melihat sebuah burung yang biasa aku temui di pohon depan rumahku sedang bersiul dengan merdunya untuk membangunkan dunia. Pagi ini aku akan kesekolah dan sebelum berangkat aku melakukan kewajibanku sehari-hari yaitu sholat dan membantu ibuku untuk mencuci piring dan menyapu halaman, selesai itu aku segera berangkat dan aku hampir lupa hari ini ada presentasi tentang laporan ku setelah melakukan observasi. Setelah beberapa menit aku menunggu angkutan umum (memang setiap berangkat dan pulang sekolah aku selalu naik angkutan umum), akhirnya angkutan umum yang kutunggu datang, setelah sampai disekolah aku pun mempersiapkan presentasiku sesegera mungkin.
      Walaupun aku hanya seorang gadis dengan keluarga yang sederhana namun aku sangat ingin membuat kedua orang tuaku bangga, nama yang diberikan orang tuaku padaku adalah “Aizza Husna Kamila” nama yang indah bukan ??? yakkk sangat indah bagiku dan orang tuaku sangat menginginkanku agar aku kelak menjadi seorang polisi wanita yang tangguh, aku sangat ingin mewujudkan keinginan kedua orang tuaku itu sehingga aku berniat untuk mengikuti seleksi paskibraka Kabupaten, semoga awal yang baik untukku mewujudkan keinginan kedua orang tuaku. Tepat pada hari senin aku diseleksi dengan banyak anak sekolah yang mendaftar dari berbagai macam sekolah, disana aku diseleksi tentang fisik selain itu diseleksi juga pengetahuanku tentang paskibraka itu sendiri dan tentang negaraku ini, Alhamdulillah aku melewatinya dengan lancar dan tetap selalu bersyukur tentang bagaimana hasil dari seleksi ini karena hasil takkan pernah menghianati usaha seseorang yang selalu bersyukur dan berdoa.
       Beberapa hari telah aku lalui dengan tenang karena aku sudah siap kecewa jika nantinya imipianku gagal dalam tahun ini, tepat 1 minggu aku menunggu hasilnya, setelah pulang sekolah aku menyempatkan diriku untuk melihat hasil pengumuman tentang seleksi paskibraka Kabupaten Tuban, banyak anak yang kecewa karena tidak lolos dalam seleksi ini namun aku mencoba tetap tenang dan tawaduk, aku melihat namaku berada diurutan ke-15 dan dinyatakan lolos dalam seleksi ini, aku sungguh bersyukur dengan nikmat Allah ini, aku bergegas pulang untuk memberikan kabar gembira ini pada kedua orang tuaku. Setelah sampai dirumah aku memberitahu orang tuaku, tak ku sangka orang tuaku meneteskan air mata kebanggaannya padaku, namun orang tuaku agak berat hati jika aku harus melepaskan jilbabku untuk ini, aku menguatkan kedua orang tuaku agar jangan pernah takut karena aku takkan melepaskan jilbabku ini jika aku menjadi paskibraka itu. Keesokan harinya aku mulai mencoba untuk berbicara kepada pelatihku “maaf, pak saya ingin menanyakan sesuatu, apakah diperbolehkan paskibraka untuk tidak membuka jilbabnya” aku mulai bertanya dengan sangat hati-hati karena badannya yang sangat kekar membuatku takut untuk memulai kata-kataku. “silahkan anda berbaris ditempat anda saya akan menjawabnya” pelatih kekar dari TNI itu mulai berbicara, Secepatnya aku kembali kebarisanku dan berkumpul dengan anak SMA lain karena aku sangat gemetar melihatnya, “ditahun lalu memang yang beragama islam tidak diperbolehkan untuk memakai jilbab dalam mengikuti paskibraka kabupaten ini namun dalam peraturan kini sudah diganti, yang beragama islam diperbolehkan untuk memakai jilbab baik dalam pelatihan maupun penampilannya” pelatih kekar itu mulai menjelaskan peraturan baru. Dalam hati aku sangat bersyukur karena Allah memberikan lagi kenikmatan yang luar biasa pada diriku, sungguh-sungguh impian yang sangat aku harapkan.
     Sudah satu minggu ini aku mengikuti latihan pada paskibraka namun ada sesuatu yang mengganjal, ketika aku tak masuk sekolah aku juga tak ingin ketinggalan pelajaran berhari-hari, namun aku mempunyai tekad untuk melakukan dua pekerjaan yang mungkin cukup berat dilakukan dalam waktu yang sangat tidak mendukung karena aku harus focus pada sekolah dan latihanku. Mulai besok pagi aku harus bisa membagi waktuku untuk sekolah dan latihan, pagi-pagi aku berangkat untuk mengikuti latihan dan pada jam istirahat aku langsung pergi kesekolah untuk menanyakan tugas yang mungkin belum aku selesaikan, setelah itu aku langsung kembali lagi untuk menyelesaikan latihanku hingga sore hari. pikiran dan fisikku harus tetap kuat untuk melakukan itu selama satu bulan, namun beberapa hari mulai terasa badanku sudah tak kuat lagi karena latihan yang menguras tenaga dan tugas-tugas sekolah yang selalu aku kejar agar tak ketinggalan jauh. sebelum aku tertidur aku bertanya-tanya dalam pikiranku, apakah seperti ini usaha untuk mencapai impian yang diinginkan seseorang ? , apakah seberat seperti memikul batu ?, disitu aku mulai meneteskan air mata karena aku takut tak sanggup melakukannya, karena sebelum itu aku tak pernah melakukannya, Allah teruslah berada disampingku, tepuk pundakku jika aku mulai mengeluh lagi, Allah berikan aku kesehatan yang lebih agar aku dapat melakukan ini semua untuk kedua orang tuaku, keluarga dan sahabat-sahabatku, aku mulai menguatkan hati untuk tetap melanjutkannya.
    Sudah tiga minggu ini aku melakukannya dengan baik, mulai dari latihanku yang tak pernah terganggu dan tugas-tugasku yang selalu aku kerjakan dan tak pernah aku lupa atau malas mengerjakannya karena ada orang tua, keluarga dan sahabat-sahabatku yang selalu mendukungku setiap waktu, aku bersyukur mempunyai orang-orang yang selalu mendukungku dan selalu membantuku dalam keadaan seperti ini. Ketika aku tak sering kesekolah untuk mengikuti pelajaran aku selalu rindu untuk sekedar tertawa bersama mereka, rindu akan kelucuan mereka dan selalu bersama kemanapun kami pergi, aku selalu rindu kalian. Disini aku juga mempunyai banyak teman baru dari berbagai sekolah, disini mereka juga sama-sama berjuang untuk impian mereka masing-masing jadi selama latihan dimulai aku tak pernah merasa sendiri karena semua orang disini berteman walaupun kita baru kenal satu sama lain.
    Kini tak terasa satu bulan telah aku lalui bersama teman dan bapak ibuku yang baru ditempat latihan, tepat pada tanggal 17 Agustus diriku dan teman-temanku berjuang di hari itu untuk melakukan yang terbaik. Detik demi detik kita lalui serasa aku ingin berteriak dan tertawa betapa bangganya aku bisa melakukan ini didepan banyak orang-orang penting, setelah pengibaran selesai aku merasa lega dan rasanya aku hanya ingin bergembira bersama teman-temanku saat itu namun hari itu hari terakhir mungkin kita bisa berkumpul karena setelah ini kita akan kembali kesekolah masing-masing untuk meneruskan tujuan kita.
    Huhhh… sudah satu bulan aku tak menghabiskan waktuku disekolah bersama teman-temanku, jika aku kesekolah mungkin hanya sebentar itupun hanya menanyakan tugas yang diberikan guru bukan untuk tertawa bersama mereka. Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah dengan naik angkutan umum, walaupun sederhana aku tetap bersyukur dan tak pernah menuntut orang tuaku lebih. Heeem… serasa masuk kesekolah yang baru, ternyata teman-temanku sudah menungguku, banyak cerita yang belum kudengar dari mereka entah itu masalah percintaan, pelajaran atau sesekali terselip cerita tentang masalah pribadi mereka akupun tak kalah antusias aku juga ingin menceritakan semua pengalamanku selama mengikuti latihan paskibraka itu, mereka mendengarkanku seraya tertawa kecil ketika lidahku mulai terpeleset dalam berbicara. Aku sangat bahagia dihari kemerdekaan Negaraku ini aku dapat membuat orang tuaku bangga dan membuat teman-temanku ikut merasakan kebahagiaanku ini. Aku bangga dengan Indonesiaku aku cinta Negaraku. Karena Indonesia aku dapat mewujudkan keinginan orang tuaku dan karena Negaraku ini aku dapat membuktikan kepada semua orang bahwa bukan hanya orang-orang kaya saja yang dapat mewujudkan impian tapi orang-orang sederhana pun mempunyai kesempatan untuk mewujudkan impiannya. Lakukan yang terbaik untuk dirimu, orang tuamu, negaramu, keluargamu, sahabatmu dan beberapa orang terdekat yang menyayangimu karena tanpa mereka diri kita bukan apa-apa. Ganbateeee.

  SEKIAN