GORESAN KECIL DI SEBUAH PONDOK KAYU
By : Anisa Nurmauliddia
Mentari kian terbangun di pagi hari untuk membangunkanku namun tak pernah ku hiraukan karena diriku memang malas untuk bangun dipagi cerah, aku adalah anak seseorang pengusaha yang cukup mampu bisa dikatakan sangat mampu namun aku tak pernah mengerti bagaimana susahnya orang tuaku bekerja aku hanya bisa menghabiskan uang yang mereka berikan. Namaku “Afrizal Zakaria Devanto” banyak orang yang mengatakan jika aku ini anak nakal, memang begitu diriku, ini diriku anak yang suka tawuran, jarang masuk kelas, suka sekali membolos untuk pergi nongkrong bersama teman gengku.
Suatu hari aku ditegur oleh guruku disekolah aku diberikan surat peringatan dan menyuruh kedua orang tuaku untuk datang kesekolah, akupun tak menghiraukannya karena aku tak pernah peduli dengan sesuatu yang bagiku tak penting, keesokan harinya kedua orang tuaku datang kesekolah karena menerima panggilan dari sekolah dan aku dipanggil oleh salah satu guruku untuk datang ke kantor kepala sekolah. “maaf, untuk orang tua Afrizal saya memanggil anda berdua kemari, karena kami merasa Afrizal sudah tak ingin lagi bersekolah disini, karena banyak sekali pengaduan para guru terhadap Afrizal yang jarang masuk kelas dan tidak pernah menyelesaikan tugasnya” kepala sekolahku mulai berhbicara panjang lebar mengenai kelakukanku disekolah, orang tuaku mungkin terlihat marah mendengar kelakuanku seperti itu disekolah tapi aku tak pernah ambil pusing karena itu memang diriku dan tidak bisa dirubah, “iya itu memang kelakuanku, memangnya kenapa jika aku seperti itu, ada yang salah ?” aku menjawab enteng perkataan kepala sekolah, orang tuaku merasa malu dan mungkin ingin sekali memarahiku, “maaf bu dengan perkataan anak saya, baik bu kami akan memindahkan anak kami disebuah pondok pesantren didaerah yang jauh dari perkotaan agar dia bisa berubah” ayahku pun mulai berbicara karena yang aku lihat sejak tadi hanya diam dan melotot terus. Namun dalam hati aku mulai berbicara “pesantren?, aahh tapi yasudah karena dimanapun aku tak akan bisa berubah karena ini memang diriku, ini memang sifatku aku tak akan pernah bisa berubah”.
Esok hari aku dibangunkan oleh ibuku untuk cepat-cepat mandi, “Rizal, bangun dan cepat mandi”, Ibuku mulai membuka selimutku dan membuka jendela kamarku. “aahhh ibu ini silau” aku terbangun dengan matahari yang melotot hingga aku tak kuat membuka mataku.” Huhhh menyebalkan pagi-pagi kayak gini mau kemana sih nyuruh mandi cepet-cepet”, aku bergumam terus dalam hati karena baru kali ini aku bangun sepagi ini. Setelah aku mandi aku melihat ibuku memasukkan baju bajuku kedalam koper, “eh eh ibu, kenapa semua pakaianku dimasukin, memangnya aku mau kemana?” aku bertanya dengan nada kebingungan, “apa kamu lupa ?, ayahmu akan mengantarkanmu dan mendaftarkanmu disebuah pondok pesantren didesa” ibuku mulai menjelaskan, “jadi yang ayah katakan memang benar bu aku akan kesana?” aku memelas agar ayah dan ibuku tidak membawaku kesana, “sudahlah pakai baju ini dan segera turun, temui ayahmu dibawah”, setelah ibuku mengemasi pakaianku ibu menyuruhku untuk segera turun. Akhirnya setelah siap aku turun kebawah (iya memang kamarku berada dilantai dua), terlihat ayahku sudah siap untuk mengantarku, “Rizal cepat bawa kopermu ini sudah siang” ayahku dengan nada tinggi menyuruhku, “iya ayah” aku menjawab dan turun dengan membawa koper. “ayah apa ini gurauan ?, apa ayah tega mengirimku kesebuah pondok pesantren yang aku belum pernah kesana sekalipun” aku mulai berbicara pada ayahku agar ayahku membatalkan niatnya, “apa ayah terlihat seperti bergurau ?, ayah hanya ingin kamu berubah menjadi orang yang baik bukan untuk mengusirmu dari rumah” ayahku mulai mempertegas perkataannya. Saat itu wajahku mulai musam terlihat ibuku sedih saat aku masuk dalam mobil dan segera berangkat kesana, aku melambaikan tanganku pada ibu dan seketika itu mobil yang kutumpangi sudah berjalan menjauhi rumah itu, memang sedih tapi bagaimana lagi, jika ayahku sudah mempunyai niat ia takkan pernah bisa mengurungkannya. Didalam perjalanan aku hanya diam dan hanya memandangi jalan sekitar. “nak, jangan terlalu dipikirkan, disana lebih menyenangkan, banyak teman lagi” ayahku mulai membuka pembicaraan disela-sela perjalanan yang mungkin cukup jauh, “aku tak memikirkan itu ayah, hanya saja aku memikirkan bagaimana aku bisa beradaptasi dengan pelajaran yang belum pernah aku ketahui sebelumnya” aku menjawab dengan mata masih tertuju pada pinggiran jalan, “disana banyak sekali orang-orang yang peduli terhadap sesama, kamu pasti aku dibantu oleh teman atau ustadz-ustadz mu disana” ayah mulai menyenangkanku, “yasudah aku terima” aku menjawab seperti seseorang yang sangat letih. Beberapa jam aku lalui hingga aku tertidur cukup lama dalam perjalanan ini dan tak terasa mobil ayahku berhenti lalu ayah membangunkanku, “Rizal bangun kita sudah sampai” ayahku mulai menepuk pundakku, akhirnya aku terbangun dan melihat disekitarku banyak sekali lelaki yang mengenakan sarung dan songkok sambil membawa Al-qur’an, ketika ayah turun aku mengikutinya, aku seperti orang ter-keren ditempat itu karena hanya aku yang memakai celana jeans dan kaos oblong, aku mulai berpikir apakah aku harus seperti anak anak itu yang kemana-mana selalu mengenakan sarung dan songkok, aaah pikiranku mulai tak karuan.
Setelah lama aku menunggu ayah berbicara dengan pengurus pondok akhirnya aku diantar untuk melihat kamarku, saat membuka kamar aku melihat ada lima anak yang berkumpul disana dan mungkin sedang mengerjakan tugas atau apalah aku tak peduli, anak-anak itu mulai menyapaku, aku hanya tersenyum, setelah aku melihat kamarku ayah pamit untuk segera pulang karena masih ada pekerjaan yang menunggu dikantornya, “harus bisa menjaga nama baik keluarga” pesan ayah padaku, “iya ayah” aku menjawabnya dan mengantarkan ayahku kedepan. Ketika aku kembali kekamarku anak-anak yang berkumpul tadi sudah tidak ada, kemana mereka ?, bicaraku dalam hati, yasudah biarlah. Saat aku ingin berbaring ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, tok tok tok…, “maaf mas anda harus cepat berganti pakaian seperti kami karena kami akan memulai pengajian rutin dimasjid dengan bapak kyai” beberapa orang datang menghampiriku untuk memberitahukan bahwa dipesantren ini aku harus berpakaian seperti itu setiap harinya, “oh iya terimakasih, tunggu saja aku di masjid” jawabanku yang agak songong, 5 menit aku berganti pakaian aku langsung aku menuju kemasjid untuk mengikuti pengajian.
Setelah pengajian selesai santri-santri itu mulai berkumpul disebuah ruang makan yang sangat besar karena ku nggak tau harus ngapain jadi aku ikut ajha kemana mereka pergi, semua orang mulai mengambil piring dan satu persatu lauk-pauk yang sudah disediakan aku pun mengikutinya dan duduk disebelah santri yang sedari tadi baik padaku. Dipertengahan aku menyuapkan nasi kedalam mulutku anak itu mengajakku untuk berbincang-bincang, “mas ini namanya siapa ya ?, mas ini kan yang anak baru tadi kan ?” iya mulai banyak pertanyaan., “panggil saja saya Rizal, iya mas saya baru disini” aku mulai menjawabnya, “jangan panggil saya mas panggil saja saya Imron, saya sudah 4 tahun di pesantren ini, mengapa mas baru masuk saat pertengahan semester seperti ini ?” dia bertanya dengan lembut, “lama banget ya kamu disini, saya pindah kesini karena saya disekolah yang dulu adalah murid yang paling bandel dan tidak bisa diatur jadi orang tua saya ingin agar saya berubah ditempat ini” aku menjelasakannya satu-persatu. Dan tak terasa nasi yang ada dipiringku tadi telah habis, setelah aku menaruh piringku itu ditempat cucian piring aku langsung menghampiri anak itu, “kita akan kemana sekarang ?” aku memberanikan untuk bertanya pada anak itu, “eeeemm kita akan sholat berjamaah dan setelah itu kita akan belajar mengaji, mari jika kamu ingin ikut” ia mengajakku, “boleh aku bergabung dengan kalian ?” aku takut jika mereka terganggu dengan kedatanganku, “kenapa tidak ?, mari”, ia sangat baik dan sopan.
Setelah sholat berjamaah aku diajarinya mengaji oleh mereka yang sejak tadi bersamaku, aku semakin akrab bersama mereka walaupun kami baru kenal beberapa jam saja, saat ini badanku serasa tak kuat lagi untuk beraktifitas karena jadwal yang padat di pesantren ini, akhirnya aku kembali kekamar dan aku membuka laptopku untuk melihat apakah ada email dari teman-temanku karena aku merasa bosan disini, ketika aku sedang membuka laptop ada yang mengetuk pintu kamarku, “masuk ajha nggak dikunci” aku berteriak karena saat itu aku memang benar-benar sangat kelelahan, ternyata Imron yang mengetuk pintu itu, “wah Rizal kamu punya barang ini ?” ia ternganga, “barang apa yang kamu maksud ?, ini namanya laptop, apa kamu belum pernah sekalipun melihat ini ?” aku merasa bingung dengan pertanyaan imron, ‘iya ini Rizal, aku pernah melihatnya namun hanya di televisi” ia mulai memencet-mencet keyboard pada laptopku, seperti anak kecil yang baru kenal dengan barang baru. Memang pada saat itu laptop jarang ada yang memiliknya dan juga pondok pesantren itu berada disebuah pelosok desa jadi jarang sekali aku melihat mobil lewat didaerah pelosok ini. “bagaiman cara menyalakan alat ini ?” ia mulai penasaran, “tadi kan kamu udah ngajarin aku ngaji jadi sekarang gantian aku yang ngajarin kamu tentang teknologi terbaru ini ya” aku mulai menuntunnya, setelah beberapa saat ia mulai bisa untuk menyalakannya dan kali ini aku akan mengajarinya untuk menulis dengan keyboard. Aku sangat lelah dan aku ketiduran sehingga aku membiarkannya untuk mengotak-atik laptopku sendiri, aku percaya dengannya karena memang dia anak yang pandai. Setelah ia selesai mengotak-atik laptopku ia membangunkanku untuk mematikan laptop dan pindah posisi tidur karena jika posisiku seperti itu aku akan merasa lebih letih esoknya, ia mulai berbicara panjang lebar agar aku segera bangun.
Setelah beberapa hari aku disini aku merasa betah kebiasaan kita yaitu setelah belajar mengaji kita belajar untuk menggunakan laptop secara keseluruhan, ia mulai pintar dalam menggunakannya, ia juga menulis cerita tentang dirinya dan keluarganya aku hanya mengajarinya hal-hal yang menurutku penting saja tapi ia bisa melakukannya sendiri kini tanpa bantuanku. Tepat pada esok hari ada sebuah perlombaan untuk menulis cerita pengalaman yang mengesankan, ia sangat antusias untuk ikut dan aku mendukungnya, setiap harinya sibuk untuk menulis, menulis dan menulis. Setelah selesai dan ceritanya jadi ia mulai mengumpulkannya lalu dalam satu minggu kami menunggu akhirnya pengumuman pemenang itu diumumkan. Memang benar perkiraanku ia menjadi pemenang pertama karena ia sangat pandai dan aku juga suka sekali dengan tulisannya, ia menangis terharu karena baru kali ini ia mendapatkan juara seperti ini, aku pun tak bisa menahan air mata ini karena aku juga merasa bangga punya sahabat yang pandai seperti imron.
Tak terasa aku disini sudah satu tahun dan masih tetap dengan wajah sahabat yang sama, namun persahabatan ini tak berlangsung lama karena Imron mendapat beasiswa diluar kota dan akan berangkat 3 hari lagi untuk meneruskan pendidikannya, memang ini yang ditunggu Imron tapi bagaimana aku nantinya jika tidak ada dirinya, kita sudah seperti saudara yang kemana-mana selalu bersama, aku juga harus merelakan imron buat mengejar cita-citanya. Akhirnya hari yang tak kutunggu datang juga dan tepat pada saat itu imron pergi dari pesantren ini, yasudah aku tak akan terlarut terlalu lama dengan kesedihan ini. memang benar hari-hari tanpanya sangat membosankan, aku harus mengerjakan sesuatu itu sendiri tanpa ada sosok yang selalu membantuku dan menepuk pundakku ketika aku salah, aku merindukannya setelah 5 bulan kita tak pernah bertemu, aku berubah seperti ini karena bantuannya, orang tuaku merasa padaku bangga juga karena bantuannya. Namun tepat pada bulan ke-6 semenjak kepergiannya aku pun juga melanjutkan pendidikan ku dikota kelahiranku, disini aku mulai mendapat teman baru namun aku tetap masih tak bisa menggantikan ia sebagai seorang sahabatku. Bertahun-tahun aku lalui tanpanya dan tak terasa aku sudah lulus sebagai sarjana kedokteran, tak lama kemudian aku bekerja disalahsatu rumah sakit dikotaku setelah beebrapa bulan aku bekerja disini aku memutuskan untuk mengambil cuti selama 4 hari karena aku rindu dengan keadaan di pesantren aku sangat ingin mengunjunginya. Setelah perjalanan yang sangat jauh akhirnya aku sampai didepan pesantren aku sempat terdiam dan memikirkan saat aku disini dulu bersama Imron, bagaimana keadaannya sekarang ?, mengapa ia tak pernah menghubungiku ?, aku selalu bertanya-tanya dalam hati, huuuh yasudahlah. Didalam pesantren aku menemui pengurus pesantren karena aku rindu dan aku ingin menanyakan bagaimana keadaan temanku itu, “Assalamualaikum pak” aku mengetuk pintu ruangannya, “Wa’alaikum salam, eh nak Rizal, lama kita tak bertemu, mari-mari masuk” pengurus pondok itu mempersilahkanku untuk masuk, “iya pak saya baru bisa berkunjung sekarang, maaf pak, apakah saya boleh menanyakan sesuatu ?” aku mulai memberanikan diri untuk bertanya, “boleh nak silahkan” ia membolehkannya, “apakah Imron memberi kabar orang-orang dipesantren ini pak ?” aku mulai berbicara serius, bapak itu wajahnya terlihat tak seceria saat aku masuk, “ada apa pak ?” aku mulai bingung, “begini nak 3 bulan yang lalu nak Imron kemari dalam keadaan sakit keras, ia berkata jika aku meninggal ingin dikuburkan dipesantren ini dan setelah 5 hari ia dirawat di pesantren ini akhirnya ia meninggal, saya tidak diperbolehkan untuk memberitahukan kepada anda” bapak itu sambil menunduk, “jadi selama ini Imron sudah meninggal ?, aku ingin melihat kuburnya ?” aku segera bangkit dan pergi melihat kuburnya, setelah sampai aku tertunduk dan menangis terisak-isak karena aku tak menemaninya disaat terakhirnya, aku menyesal tak mencarinya disini sejak dulu, Ya Allah kenapa Engkau berikanku cobaan dengan mengambil sahabatku ? aku tetap menagis disamping kuburnya lalu bapak itu membangkitkanku dan membawaku keruangannya kembali, namun aku masih tak menyangka.
Setelah beberapa hari aku kembali bekerja, serasa diriku masih tak kuat karena hatiku masih terguncang, namun aku harus tetap bekerja karena aku mengingat Imron pernah berkata padaku “apapun pekerjaanmu kelak kamu harus berbuat kebaikan dan tetap jujur karena kemajuan negara kita berada ditangan anak-anak bangsa”, aku berjanji pada diriku sendiri agar aku tetap melakukan yang terbaik dan selalu jujur. Walaupun kini sahabatku telah tiada namun aku akan tetap mengenangnya. Lakukanlah yang terbaik untuk bangsa, orang tua dan sahabat-sahabatmu karena jika tidak kamu akan menyesalinya.
☺ SEKIAN ☺
Tidak ada komentar:
Posting Komentar